Connect with us

Ragam

Dinas PUPR Maluku Salurkan Bantuan Emergensi dan Data Kerusakan Akibat Banjir

Published

on


AMBON,- Bencana banjir yang sempat melanda sejumlah wilayah Kota Ambon akibat tingginya intensitas hujan beberapa hari lalu, ternyata juga membuat sejumlah kerusakan baik rumah warga, maupun infrastruktur umum.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Maluku bergerak cepat, dengan mendata kerusakan infrastruktur yang disebabkan oleh musibah banjir tersebut.

Dinas yang dinahkodai Muhammad Marasabessy ini juga menyalurkan bantuan emergensi dari Gubernur Maluku, Murad Ismail, seperti makanan instan, air mineral, dan sejumlah peralatan untuk membantu masyarakat membersihkan lingkungannya dari sampah dan genangan air.

Sekretaris Dinas PUPR Provinsi Maluku, Afandy Hasanusi, mengatakan, pendataan dampak banjir selain dilakukan oleh pihaknya, juga dilakukan lintas instansi sesuai bidang dan tupoksi. Pihaknya sendiri mendata kerusakan infrastrukrur berkaitan dengan PU seperti infrastruktur jalan, jembatan, dan drinase.

Dikatakannya, karena ini kerja lintas sektoral, maka laporan yang akan dimasukkan ke BPBD harus terintegrasi untuk selanjutnya diteruskan BNPB buat ditindaklanjuti.

“Kami diperintahkan oleh Pak Kadis agar pendataan kerusakan dilakukan secara terukur, kerusakan tergambar secara jelas, berapa banyak kerusakannya, volumenya berapa, kebutuhan penanganannya seperti apa, dokumentasinya juga harus disiapkan dengan baik,” kata Hasanusi kepada Redaksi ArmidaNews di Ambon, Senin (6/10).

Menurut Hasanusi, banjir di Ambon saat intensitas curah hujan yang tinggi sangat sulit dihindari, selain karena telah terjadi alih fungsi lahan dimana daerah penyangga dan resapan air banyak yang berubah menjadi wilayah pemukiman penduduk, juga akibat kebiasaan masyarakat membuang sampah di sungai dan saluran drinase, serta pola pemukiman penduduk yang sporadis.

Sendimentasi sepanjang daerah aliran sungai, termasuk daerah bantaran sungai yang kini penuh dengan pemukiman penduduk menjadi faktor lainnya. Lima jalur sungai di Ambon yang mesti mendapat perhatian adalah Wai Ruhu, Wai Batu Merah, Waitomu, Wai Batu Gajah, dan Batu Gantung.

Menurutnya, selain normalisasi sungai untuk mengeruk sendimentasi tanah dan material batu, kedua sisi bantaran sungai semestinya harus dikosongkan. Karena itu, relokasi warga di sebagian wilayah menjadi tindakan yang mendesak dan urgen.

“Tentunya akan muncul masalah sosial. Namun untuk menangani banjir, tidak ada cara lain yakni relokasi, selain normalisasi sungai, dan pembuatan sumur-sumur resapan,” sebutnya. (AN-01)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *